The Potter with His Clay
Firman yang datang dari TUHAN kepada Yeremia, bunyinya: “Pergilah dengan segera ke rumah tukang periuk! Di sana Aku akan memperdengarkan perkataan-perkataan-Ku kepadamu.” Lalu pergilah aku ke rumah tukang periuk, dan kebetulan ia sedang bekerja dengan pelarikan. Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya. Kemudian datanglah firman TUHAN kepadaku, bunyinya: “Masakan Aku tidak dapat bertindak kepada kamu seperti tukang periuk ini, hai kaum Israel!, demikianlah firman TUHAN. Sungguh, seperti tanah liat di tangan tukang periuk, demikianlah kamu di tangan-Ku, hai kaum Israel!
(Yeremia 18:1-6)
This word came to Jeremiah from the LORD: Rise up, be off to the potter’s house; there I will give you my message. I went down to the potter’s house and there he was, working at the wheel. Whenever the object of clay which he was making turned out badly in his hand, he tried again, making of the clay another object of whatever sort he pleased. Then the word of the Lord came to me: Can I not do to you, house of Israel, as this potter has done? says the LORD. Indeed, like clay in the hand of the potter, so are you in my hand, house of Israel.
(Jeremiah 18:1-6)
Hari ini Gereja memperingati hari Santo Ignatius dari Loyola. Cerita lebih detailnya ada disini.
Dengan firman hari ini, Tuhan mau menunjukkan kepada kita bagaimana Dia bekerja dalam hidup kita. Dianalogikan dengan tukang periuk dan periuknya. Tuhan sebagai tukang periuknya membentuk periuk (manusia) sesuai dgn yg Dia mau. Dan ketika periuk itu sudah jadi, percayalah itu akan menjadi benda yg indah. Seperti hidup kita dimana awal2nya sakit dan sedih dalam proses pembentukannya, tp percayalah akan indah pada akhirnya. ^^
untuk injilnya bisa dibaca di Mat 13:47-53
St. Ignatius dari Loyola
Terlahir dengan nama Inigo de Loyola, pada tahun 1491 di Azpeitia, Basque, propinsi Guipuzcoa, Spanyol, seorang pria yang kita kenal sebagai Santo Ignatius de Loyola adalah putra bungsu dari tiga belas bersaudara. Di usia enam belas tahun ia dikirim untuk bekerja dan menjadi bagian dari rumah seorang bangsawan kaya bernama Juan Velazquez. Karena bekerja di sana sebagai seorang prajurit, ia pun tenggelam dalam kemewahan dan keduniawian yang memang menjadi bagian dari kehidupan para bangsawan, terutama sekali ia sangat menyukai wanita dan perjudian. Pada usia 30 tahun, ketika sedang membela Spanyol dalam sebuah peperangan melawan Prancis, ia mengalami patah sebelah kaki dan cedera berat di kaki yang satunya. Karena mengagumi keberaniannya, para prajurit Prancis membawa Ignatius pulang ke rumahnya, yaitu di Kastil Loyola, dan bukan mengirimnya ke penjara sebagai tawanan perang. Dalam periode penyembuhan yang panjang tersebut ia mengalami rasa bosan dan jenuh, karena sekarang ia yang adalah seorang prajurit tangguh harus berdiam diri tanpa bisa melakukan sesuatu apa pun yang berarti. Ia meminta beberapa novel roman untuk menemaninya melewati waktu. Sayangnya tidak ada buku seperti itu di Kastil Loyola, yang ada justru cerita tentang kehidupan Yesus dan para martir-Nya. Karena bosan, Ignatius pun mulai membacanya. Anehnya, setelah membacanya ia mulai merasakan kedamaian dan ketenangan batin, yang tidak dirasakannya setelah berpesta-pora dengan para wanita atau merasakan kemenangan di meja judi. Peristiwa tersebut bukan hanya permulaan dari pertobatannya, akan tetapi juga permulaan dari apa yang disebut sebagai ‘Spiritual Discernment’, atau ‘Discernment of Spirit’, yang menjadi bagian yang dijelaskannya dalam sebuah latihan rohani, yang sampai sekarang ini kita kenal sebagai ‘Latihan Rohani Santo Ignatius’. Setelah merasa cukup kuat untuk berjalan, ia memutuskan untuk pergi ke Yerusalem, tempat bersejarah yang menjadi saksi peristiwa keselamatan yang dikerjakan Allah melalui Tuhan kita Yesus Kristus. Ignatius harus melalui perjalanan yang sangat panjang sebelum akhirnya meleburkan diri dengan kehidupan biara dan pada akhirnya memimpin sebuah tarekat religius yang kita kenal sebagai Serikat Jesuit (Society of Jesus), yang diresmikan oleh Paus Paulus III pada tanggal 27 September 1540. tarekat tersebut semula bernama Company of Jesus (dalam bahasa Latin bernama Societatis Jesu). Kesukaan Santo Ignatius dalam kehidupannya yang baru adalah mengajar katekumen untuk anak-anak dan memberikan pengarahan kepada muda-mudi dalam Latihan Rohani (Spiritual Exercises). Dalam kehidupannya di dunia ini, Santo Ignatius sempat menyaksikan betapa Serikat Jeuit yang dipimpinnya bertumbuh dengan hebat bermula dari hanya delapan anggota menjadi ribuan. Beberapa dari anggotanya adalah para teolog yang ikut serta dalam Konsili Trente, sebuah event yang memainkan peranan vital dalam gerakan Kontra Reformasi Gereja Katolik. Barangkali sebenarnya Serikat Jesuit berawal dari sekolah yang didirikan oleh Santo Ignatius. Sangat menarik untuk disimak bahwa sebenarnya ia tidak berminat mendirikan sebuah tarekat. Sebelum tahun 1548 Ignatius sudah membuka sekolah-sekolah di Italia, Portugal, Belanda, Spanyol, Jerman dan India. Tujuan dari sekolah-sekolah tersebut sebenarnya adalah untuk melatih para muda-mudi dalam Latihan Rohani yang dikembangkannya. Motto dari Serikat Jesuit yang terkenal adalah ‘Ad Majorem Dei Gloriam’, yang dalam bahasa Indonesia sederhana kira-kira berarti Demi Kebesaran dan Kemuliaan Allah. Salah satu dari kedelapan anggota awal Serikat Jesuit adalah St. Fransiskus Xaverius, cikal-bakal berdirinya Gereja Katolik di Indonesia. St. Ignatius wafat pada tanggal 31 Juli 1556. Beatifikasi Santo Ignatius diberikan pada tanggal 27 Juli 1609, dan pada tanggal 12 Maret 1622 Paus Gregorius XV mengumumkan kanonisasi Santo Ignasius bersama-samaansiskus Xaverius, sebagai Orang Kudus. Gereja Katolik merayakan Santo Ignatius sampai sekarang setiap tanggal 31 Juli setiap tahunnya.
-
Archives
- June 2009 (4)
- May 2009 (25)
- November 2008 (3)
- October 2008 (9)
- September 2008 (4)
- August 2008 (24)
- July 2008 (48)
- June 2008 (4)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
