Kebenaran di balik tekanan
Sebab memang Herodeslah yang menyuruh orang menangkap Yohanes dan membelenggunya di penjara berhubung dengan peristiwa Herodias, isteri Filipus saudaranya, karena Herodes telah mengambilnya sebagai isteri. Karena Yohanes pernah menegor Herodes: “Tidak halal engkau mengambil isteri saudaramu!” Karena itu Herodias menaruh dendam pada Yohanes dan bermaksud untuk membunuh dia, tetapi tidak dapat, sebab Herodes segan akan Yohanes karena ia tahu, bahwa Yohanes adalah orang yang benar dan suci, jadi ia melindunginya. Tetapi apabila ia mendengarkan Yohanes, hatinya selalu terombang-ambing, namun ia merasa senang juga mendengarkan dia. JFB GIL
Baru Markus 6:21 Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulang tahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarny perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea. JFB GIL
Baru Markus 6:22 Pada waktu itu anak perempuan Herodias tampil lalu menari, dan ia menyukakan hati Herodes dan tamu-tamunya. Raja berkata kepada gadis itu: “Minta dari padaku apa saja yang kauingini, maka akan kuberikan kepadamu!”, lalu bersumpah kepadanya: “Apa saja yang kauminta akan kuberikan kepadamu, sekalipun setengah dari kerajaanku!” Anak itu pergi dan menanyakan ibunya: “Apa yang harus kuminta?” Jawabnya: “Kepala Yohanes Pembaptis!” Maka cepat-cepat ia pergi kepada raja dan meminta: “Aku mau, supaya sekarang juga engkau berikan kepadaku kepala Yohanes Pembaptis di sebuah talam!” Lalu sangat sedihlah hati raja, tetapi karena sumpahnya dan karena tamu-tamunya ia tidak mau menolaknya. Raja segera menyuruh seorang pengawal dengan perintah supaya mengambil kepala Yohanes. Orang itu pergi dan memenggal kepala Yohanes di penjara. Ia membawa kepala itu di sebuah talam dan memberikannya kepada gadis itu dan gadis itu memberikannya pula kepada ibunya. Ketika murid-murid Yohanes mendengar hal itu mereka datang dan mengambil mayatnya, lalu membaringkannya dalam kuburan.
(Markus 6:17-29)
Herod was the one who had John arrested and bound in prison on account of Herodias, the wife of his brother Philip, whom he had married. John had said to Herod, “It is not lawful for you to have your brother’s wife.” Herodias harbored a grudge against him and wanted to kill him but was unable to do so. Herod feared John, knowing him to be a righteous and holy man, and kept him in custody. When he heard him speak he was very much perplexed, yet he liked to listen to him. She had an opportunity one day when Herod, on his birthday, gave a banquet for his courtiers, his military officers, and the leading men of Galilee. Herodias’s own daughter came in and performed a dance that delighted Herod and his guests. The king said to the girl, “Ask of me whatever you wish and I will grant it to you.” He even swore (many things) to her, “I will grant you whatever you ask of me, even to half of my kingdom.” She went out and said to her mother, “What shall I ask for?” She replied, “The head of John the Baptist.” The girl hurried back to the king’s presence and made her request, “I want you to give me at once on a platter the head of John the Baptist.” The king was deeply distressed, but because of his oaths and the guests he did not wish to break his word to her. So he promptly dispatched an executioner with orders to bring back his head. He went off and beheaded him in the prison. He brought in the head on a platter and gave it to the girl. The girl in turn gave it to her mother. When his disciples heard about it, they came and took his body and laid it in a tomb.
(Mark 6:17-29)
Hari ini Gereja memperingati hari wafatnya Yohanes pembaptis. Untuk lebih jelasnya bisa dibaca disini.
Injil hari ini kembali mau mengajak kita untuk melihat kisah hidup Yohanes pembaptis yang sampai akhir hayatnya tetap membela kebenaran. Bagaimana Yohanes yang tetep menentang pernikahan Herodes dan Herodian, meskipun maut menanti dia oleh karena rasa tidak senang dr Herodian. Sebaliknya, Herodes yang tahu akan kebenaran malah membuat dirinya bersalah oleh karena tekanan dari luar. Seringkali kita bersifat seperti Herodes yang tahu akan kebenaran, namun hanya disimpan di dalam hati saja. Dan ketika ada nya tekanan dari luar malah menyebabkan kita menyangkal kebenaran itu sendiri. Marilah kita belajar dari yhanes pembaptis yang mau membela kebenaran meskipun sengsara. ^^
St. Yohanes Pembaptis
Yohanes Pembaptis adalah saudara sepupu Yesus. Ibunya adalah Elisabet dan ayahnya adalah Zakharia. Bab pertama dalam Injil Lukas mengisahkan betapa menakjubkannya kelahiran Yohanes. Injil Markus, bab 6:14-29, mencatat betapa tragisnya kematian Yohanes Pembaptis. Sungguh berat resiko yang harus diterima Yohanes dalam mengajarkan kebenaran.
Raja Herodes dan isterinya menolak untuk mendengar bagaimana harus hidup di hadapan Tuhan. Mereka ingin membuat peraturan-peraturan mereka sendiri dan hidup dengan cara mereka sendiri. Yohanes Pembaptis harus membayar mahal harga kejujurannya. Tetapi, ia memang seorang yang teguh pada pendiriannya. Yohanes tidak akan pernah tinggal diam ketika dosa dan ketidakadilan terjadi. Ia mengajak orang banyak untuk bertobat; ia ingin agar semua orang berdamai kembali dengan Tuhan. Yohanes mengerti bahwa kebahagiaan sejati berasal dari Tuhan.
Yohanes berkhotbah tentang baptis atas pertobatan, mempersiapkan orang untuk kedatangan Mesias. Ia membaptis Yesus di Sungai Yordan dan memperhatikan dengan damai sukacita sementara pewartaan Yesus dimulai. Yohanes mendorong murid-muridnya sendiri untuk mengikuti Yesus. Ia tahu bahwa Yesus akan semakin terkenal sementara ia sendiri akan dilupakan. Pada bab pertama Injil Yohanes, Yohanes Pembaptis menyebut dirinya sendiri sebagai suara yang berseru-seru di padang gurun untuk meluruskan jalan Tuhan. Ia mengundang orang banyak untuk bersiap-siap, mempersiapkan diri untuk mengenali Sang Mesias. Pesannya sama untuk kita masing-masing.
Bagaimana jika aku tidak tinggal diam ketika melihat ketidakadilan di sekitarku? Bersediakah aku membayar harga untuk hidup dalam kebenaran?
Kemunafikan
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu sama seperti kuburan yang dilabur putih, yang sebelah luarnya memang bersih tampaknya, tetapi yang sebelah dalamnya penuh tulang belulang dan pelbagai jenis kotoran. Demikian jugalah kamu, di sebelah luar kamu tampaknya benar di mata orang, tetapi di sebelah dalam kamu penuh kemunafikan dan kedurjanaan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu membangun makam nabi-nabi dan memperindah tugu orang-orang saleh dan berkata: Jika kami hidup di zaman nenek moyang kita, tentulah kami tidak ikut dengan mereka dalam pembunuhan nabi-nabi itu. Tetapi dengan demikian kamu bersaksi terhadap diri kamu sendiri, bahwa kamu adalah keturunan pembunuh nabi-nabi itu. Jadi, penuhilah juga takaran nenek moyangmu!
(Matius 23:27-32)
Woe to you, scribes and Pharisees, hypocrites; because you are like to whited sepulchres, which outwardly appear to men beautiful but within are full of dead men’s bones and of all filthiness. So you also outwardly indeed appear to men just: but inwardly you are full of hypocrisy and iniquity. Woe to you, scribes and Pharisees, hypocrites, that build the sepulchres of the prophets and adorn the monuments of the just, And say: If we had been in the days of our fathers, we would not have been partakers with them in the blood of the prophets. Wherefore you are witnesses against yourselves, that you are the sons of them that killed the prophets. Fill ye up then the measure of your fathers.
(Matthew 23:27-32)
Hari ini Gereja memperingati hari St. Monica, ibu dari St. Agustinus. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat disini.
Injil hari ini Yesus kembali memberikan warning kepada org2 Farisi atas apa yg mereka perbuat. Apa yg diperbuat di hadapan orang2 berbeda dengan kenyataan dalam hati mereka. Hal ini lah yg Yesus katakan sebagai kemunafikan. Dalam kehidupan sekarang juga kita melihat cukup banyak orang yang seperti ini. Hal ini buakn untuk mengatai org2 tersebut, tapi lebih ke arah bagaimana kita memandang hal ini sebagai hal yang kurang baik dan jangan kita lakukan. Kalau bisa, kita juga memberitahukan kepada org2 ini bahwa itu krg tepat. Mari kita sama2 belajar untuk menjalankan apa yg Tuhan inginkan tanpa kemunafikan. ^^
St. Monica
Pernahkah kalian berdoa memohon sesuatu dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, tetapi tampaknya Tuhan belum mengabulkan doa kalian. Kemudian kalian berdoa lagi dengan sungguh-sungguh dan berdoa lagi dan berdoa lagi, tetapi tampaknya belum juga ada tanda-tanda bahwa Tuhan mengabulkan doa kalian. Jika kalian pernah mengalami hal seperti itu, janganlah berputus asa, bersandarlah tetap kepada Tuhan Allah-mu seperti yang dilakukan oleh Santa Monika. Dua puluh tahun lamanya ia berdoa barulah ia melihat bahwa Tuhan menjawab doanya. Jadi janganlah berputus asa, karena Ia punya suatu rencana yang indah untukmu.
Monika dilahirkan pada tahun 331 di Tagaste, Algeria, Afrika Utara dari keluarga Kristen yang taat. Leluhurnya bukan penduduk asli Afrika, tetapi perantauan dari Fenisia.
Monika dinikahkan dengan Patrisius, seorang pegawai tinggi pemerintahan kota. Mereka dikaruniai 3 orang anak: Agustinus, Navigius dan Perpetua (yang kelak memimpin biara). Patrisius seorang kafir. Ia bertabiat buruk, suka naik pitam dan sering mentertawakan usaha keras Monika untuk mendidik Agustinus menjadi pemuda Kristiani. Meskipun demikian, Monika tidak pernah membantah ataupun bertengkar dengan suaminya.Tak henti-hentinya ia berdoa agar suami dan puteranya segera bertobat dan menerima Kristus.
Pada tahun 371 Patrisius meninggal. Mendekati ajalnya ia bertobat dan minta di baptis. Bahkan ibu Patrisius pun juga dibaptis. Sementara itu, Agustinus belum juga mau menjadi seorang Kristen. Meski tidak ada tanda-tanda bahwa doanya dikabulkan Tuhan, Monika dengan setia tetap berdoa untuk Agustinus dengan setiap kali air mata mengalir dari kedua matanya. Tuhan mendengarkan keluh kesah Monika dan menguatkannya dengan suatu mimpi. Dalam mimpinya, Monika melihat dirinya sendiri berada di atas sebuah mistar dari kayu, kemudian datanglah seorang pemuda yang berseri-seri dan bercahaya wajahnya. Pemuda itu bertanya, “Mengapa ibu bersedih? Apa yang menyebabkan ibu menangis setiap hari?” Monika menjawab bahwa ia sedih karena tidak tahan melihat kebinasaan Agustinus, puteranya. Maka pemuda itu mengajak Monika untuk melihat dengan seksama. Segeralah terlihat oleh Monika bahwa Agustinus ada bersamanya di atas mistar. Kata pemuda itu, “Di mana engkau berada, ia pun berada.”
Telah lama waktu berlalu sejak mimpinya itu, namun Agustinus masih juga hidup dalam dosa. Oleh karena itu Monika terus datang kepada Bapa Uskup memohon-mohon dan mendesak-desak dengan air mata bercucuran supapa Uskup mau menengok dan menasehati Agustinus. Lama-kelamaan Uskup menjadi bosan dan kehilangan kesabarannya, sehingga ia berkata, “Pergilah, jangan menggangguku; demi hidupmu tak mungkinlah binasa anak sekian banyak air mata itu!” Monika amat gembira sebab ia percaya pada apa yang dikatakan Bapa Uskup bahwa Agustinus tidak mungkin binasa.
Pada tahun 383 Agustinus bersama Alypius, sahabatnya, hendak berangkat ke Roma dan Milan untuk mengajar. Monika tidak setuju karena waktu itu Roma buruk peradabannya. Di pantai menjelang keberangkatannya, Monika menawarkan hanya dua pilihan kepada Agustinus: pulang dengannya atau Monika ikut dengan Agustinus ke Italia. Dengan tipu dayanya Agustinus meninggalkan ibunya seorang diri di kapel Beato Cyprianus yang terletak di tepi pantai, sementara ia dan Alypius berlayar ke Italia.
Monika amat sedih, seorang diri ia menyusul Agustinus ke Italia. Penderitaan berat ditanggungnya terutama karena kapal yang ditumpanginya hampir karam karena badai. Tuhan menguatkan Monika dengan janji-Nya bahwa ia akan bertemu dengan puteranya sesampainya di Italia.
Monika bersahabat baik dengan St. Ambroius, Uskup kota Milan. Agustinus mulai tertarik dengan khotbah dan ajaran-ajaran Uskup Ambrosius hingga akhirnya dibaptis.
Dua bulan kemudian, yaitu bulan Juni tahun 387 Agustinus, Alypius & Monika berencana pulang kembali ke Tagaste, Afrika. Dalam perjalanan pulang mereka singgah di Ostia, di dekat muara sungai Tiber. Monika dan Agustinus berdua saja berdiri bersandar pada jendela rumah persinggahan mereka. Mereka terlibat dalam pembicaraan yang sangat menarik mengenai seperti apa kiranya kehidupan para kudus di surga. Diliputi rasa bahagia yang amat sangat Monika berkata kepada Agustinus, “Anakku, bagiku tidak ada lagi yang dapat memukauku dalam kehidupan ini. Apa lagi yang dapat kuperbuat di dunia ini? Untuk apa aku di sini? Entahlah, tak ada lagi yang kuharapkan dari dunia ini. Ada satu hal saja yang tadinya masih membuat aku ingin tinggal cukup lama dalam kehidupan ini, yaitu melihat engkau menjadi Kristen Katolik sebelum aku mati. Keinginanku sudah terkabulkan berlebihan dalam apa yang telah diberikan Allah kepadaku: kulihat kau sudah sampai meremehkan kebahagiaan dunia ini dan menjadi hamba-Nya. Apa yang kuperbuat lagi di sini?”
Lima hari kemudian Monika jatuh sakit. Kepada kedua puteranya, Agustinus dan Navigius, Monika berpesan, “Yang kuminta kepada kalian hanyalah supaya kalian memperingati aku di altar Tuhan di mana saja kalian berada.” Hanya supaya ia diingat di altar-Mu, itulah keinginannya. Sebab ia telah melayani altar itu tanpa melewati satu hari pun. Pada hari yang kesembilan Monika wafat dalam usia 56 tahun.
Santa Monika dihormati sebagai pelindung ibu rumah tangga. Pestanya dirayakan setiap tanggal 27 Agustus.
“Allah yang berbelas kasih, hiburlah mereka yang menderita,
air mata Santa Monika menggerakkan belas kasih-Mu untuk menobatkan puteranya, Santo Agustinus, kepada iman akan Kristus.
Dengan bantuan doa mereka, bantulah kami berbalik dari dosa-dosa kami dan memperoleh pengampunan-Mu yang penuh belas kasih. Amin.”
Keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan. Hai kamu pemimpin-pemimpin buta, nyamuk kamu tapiskan dari dalam minumanmu, tetapi unta yang di dalamnya kamu telan. Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab cawan dan pinggan kamu bersihkan sebelah luarnya, tetapi sebelah dalamnya penuh rampasan dan kerakusan. Hai orang Farisi yang buta, bersihkanlah dahulu sebelah dalam cawan itu, maka sebelah luarnya juga akan bersih.
(Matius 23:23-26)
“Woe to you, experts in the law and you Pharisees, hypocrites! You give a tenth of mint, dill, and cumin, yet you neglect what is more important in the law – justice, mercy, and faithfulness! You should have done these things without neglecting the others. Blind guides! You strain out a gnat yet swallow a camel! “Woe to you, experts in the law and you Pharisees, hypocrites! You clean the outside of the cup and the dish, but inside they are full of greed and self-indulgence. Blind Pharisee! First clean the inside of the cup, so that the outside may become clean too!
(Matthew 23:23-26)
Injil hari ini mau mengajak kita untuk belajar mengasihi.”Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu: keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan.” Disini terlihat banget Yesus minta orang2 Farisi yang bisa diblg sempurna menjalankan Taurat untuk belajar berbelas kasih. Seperti injil kemaren yg mengajarkan bahwa hukum kasih itu sendiri merupakan dasar dari hukum taurat. Jadi klo dah melaksanakan semuanya tp ga pake kasih, sama aja boonk.
1 hal lagi adalah mengenai mempersembahkan persembahan bagi Allah. Memang yg utama adalah kasih, tapi bukan berarti dgn kasih kita ga perlu mempersembahkan apapun. “Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan….” Disini terlihat bahwa keduanya harus dilakukan. Mari kita belajar mempersembahkan yang terbaik bagi Allah dan membagikan kasih kepada sesama.
Ajaran Tanpa Perbuatan
Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, karena kamu menutup pintu-pintu Kerajaan Sorga di depan orang. Sebab kamu sendiri tidak masuk dan kamu merintangi mereka yang berusaha untuk masuk. (Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu menelan rumah janda-janda sedang kamu mengelabui mata orang dengan doa yang panjang-panjang. Sebab itu kamu pasti akan menerima hukuman yang lebih berat.) Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang-orang munafik, sebab kamu mengarungi lautan dan menjelajah daratan, untuk mentobatkan satu orang saja menjadi penganut agamamu dan sesudah ia bertobat, kamu menjadikan dia orang neraka, yang dua kali lebih jahat dari pada kamu sendiri. Celakalah kamu, hai pemimpin-pemimpin buta, yang berkata: Bersumpah demi Bait Suci, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi emas Bait Suci, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang bodoh dan orang-orang buta, apakah yang lebih penting, emas atau Bait Suci yang menguduskan emas itu? Bersumpah demi mezbah, sumpah itu tidak sah; tetapi bersumpah demi persembahan yang ada di atasnya, sumpah itu mengikat. Hai kamu orang-orang buta, apakah yang lebih penting, persembahan atau mezbah yang menguduskan persembahan itu? Karena itu barangsiapa bersumpah demi mezbah, ia bersumpah demi mezbah dan juga demi segala sesuatu yang terletak di atasnya. Dan barangsiapa bersumpah demi Bait Suci, ia bersumpah demi Bait Suci dan juga demi Dia, yang diam di situ. Dan barangsiapa bersumpah demi sorga, ia bersumpah demi takhta Allah dan juga demi Dia, yang bersemayam di atasnya.
(Matius 23:13-22)
“Woe to you, scribes and Pharisees, you hypocrites. You lock the kingdom of heaven 8 before human beings. You do not enter yourselves, nor do you allow entrance to those trying to enter. Woe unto you, scribes and Pharisees, hypocrites! for ye devour widows’ houses, even while for a pretence ye make long prayers: therefore ye shall receive greater condemnation.”Woe to you, scribes and Pharisees, you hypocrites. You traverse sea and land to make one convert, and when that happens you make him a child of Gehenna twice as much as yourselves. “Woe to you, blind guides, who say, ‘If one swears by the temple, it means nothing, but if one swears by the gold of the temple, one is obligated.’ Blind fools, which is greater, the gold, or the temple that made the gold sacred? And you say, ‘If one swears by the altar, it means nothing, but if one swears by the gift on the altar, one is obligated.’ You blind ones, which is greater, the gift, or the altar that makes the gift sacred? One who swears by the altar swears by it and all that is upon it; one who swears by the temple swears by it and by him who dwells in it; one who swears by heaven swears by the throne of God and by him who is seated on it.
(Matthew 23:13-22)
Gtau mau bahas apa…Sepertinya sudah jelas bgt di injil nya itu sendiri. Intinya adalah bahwa sebenernya ajaran org Farisi itu ga salah, cm org2 nya aj yg menerapkan hal itu yg salah. Mari kita belajar untuk mengikuti apa yg Yesus ajarkan. Bukan hanya teori, tp diajarkan dalam perbuatan kita sehari-hari. ^^
Hukum Kasih
Ketika orang-orang Farisi mendengar, bahwa Yesus telah membuat orang-orang Saduki itu bungkam, berkumpullah mereka dan seorang dari mereka, seorang ahli Taurat, bertanya untuk mencobai Dia: “Guru, hukum manakah yang terutama dalam hukum Taurat?” Jawab Yesus kepadanya: “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.”
(Matius 22:34-40)
When the Pharisees heard that he had silenced the Sadducees, they gathered together, and one of them [a scholar of the law] tested him by asking, “Teacher, which commandment in the law is the greatest?” He said to him, “You shall love the Lord, your God, with all your heart, with all your soul, and with all your mind. This is the greatest and the first commandment. The second is like it: You shall love your neighbor as yourself. The whole law and the prophets depend on these two commandments.”
(Matthew 22:34-40)
Hari ini Gereja memperingati hari santa perawan Maria. Mami Yesus. Hehehe. Berikut kutipan dari almarhum Paus Yohannes Paulus II –>
Injil hari ini mau mengajarkan kita mengenai hukum utama dan terutama. Apalagi klo bukan hukum kasih. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri…” Dsini jelas dunk artinya. ^^
“…Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.” Kata2 ini yg harusnya cukup mengegerkan para ahli taurat waktu itu. Secara mereka yang biasa menjalankan hukum taurat ini, namun tanpa kasih itu sendiri. Mari kita belajar di injil hari ini mengenai makna dari kasih itu dan menjalankannya dalam kehidupan kita. ^^
St. Perawan Maria
Santa Perawan Maria Bunda Allah
oleh: Paus Yohanes Paulus II

1. Renungan akan misteri kelahiran sang Juruselamat telah menghantar umat Kristiani bukan hanya untuk mengenali Santa Perawan sebagai Bunda Yesus, melainkan juga untuk mengenalinya sebagai Bunda Allah. Kebenaran ini telah ditegaskan serta diterima sebagai harta warisan iman Gereja sejak dari abad-abad awal kekristenan, hingga akhirnya secara resmi dimaklumkan dalam Konsili Efesus pada tahun 431.
Dalam komunitas Kristiani yang pertama, sementara para murid semakin menyadari bahwa Yesus adalah Putra Allah, menjadi semakin nyatalah bahwa Bunda Maria adalah Theotokos, Bunda Allah. Inilah gelar yang tidak muncul secara eksplisit dalam ayat-ayat Injil, tetapi dalam ayat-ayat tersebut “Bunda Yesus” disebutkan dan ditegaskan bahwa Yesus adalah Allah (Yoh 20:28; bdk. 5:18; 10:30, 33). Bunda Maria dihadirkan sebagai Bunda Imanuel, yang artinya “Tuhan beserta kita” (bdk. Mat 1:22-23).
Telah sejak dari abad ketiga, seperti dapat disimpulkan dari suatu kesaksian tertulis kuno, umat Kristiani Mesir telah mendaraskan doa ini kepada Bunda Maria, “Kami bergegas datang untuk mohon perlindunganmu, ya Bunda Allah yang kudus, janganlah kiranya engkau mengabaikan permohonan dalam kesesakan kami, tetapi bebaskanlah kami dari segala yang jahat, ya Santa Perawan yang mulia” (dari Buku Ibadat Harian). Istilah Theotokos muncul secara eksplisit untuk pertama kalinya dalam kesaksian kuno ini.
Dalam mitos kafir, seringkali terjadi bahwa seorang dewi tertentu dihadirkan sebagai ibunda dari beberapa dewa. Sebagai contoh, dewa tertinggi, Zeus, memiliki dewi Rhea sebagai ibundanya. Konteks ini mungkin mendorong umat Kristiani untuk mempergunakan gelar “Theotokos”, “Bunda Allah”, bagi Bunda Yesus. Namun demikian, patut dicatat bahwa gelar ini tidak ada sebelumnya, melainkan diciptakan oleh umat Kristiani guna mengungkapkan suatu keyakinan yang tidak ada hubungannya dengan mitos kafir, yaitu keyakinan akan perkandungan Dia, yang senantiasa adalah Sabda Allah yang kekal, dalam rahim Maria yang perawan.
Konsili Efesus memaklumkan Bunda Maria sebagai Bunda Allah
2. Dalam abad keempat, istilah Theotokos biasa dipergunakan baik di Gereja Timur maupun Barat. Devosi dan teologi merujuk lebih dan lebih banyak lagi pada istilah ini, yang sekarang telah menjadi bagian dari warisan iman Gereja.
Oleh karenanya, orang dapat memahami gerakan protes besar yang muncul dalam abad kelima ketika Nestorius menyatakan keraguannya atas kebenaran gelar “Bunda Allah”. Sesungguhnya, berkeyakinan bahwa Bunda Maria hanyalah bunda dari Yesus manusia, ia bersikukuh bahwa “Bunda Kristus” adalah satu-satunya istilah yang benar secara doktrin. Nestorius dihantar pada kesalahan ini karena ketakmampuannya mengakui keutuhan pribadi Kristus dan karena tafsirannya yang salah dalam membuat pemisahan kedua kodrat – kodrat ilahi dan kodrat manusiawi – yang ada dalam Kristus.
Pada tahun 431, Konsili Efesus mengutuk thesisnya dan, dengan menegaskan kodrat ilahi dan kodrat manusiawi dalam satu pribadi Putra, memaklumkan Bunda Maria sebagai Bunda Allah.
3. Sekarang, kesulitan-kesulitan dan keberatan-keberatan yang diajukan oleh Nestorius memberi kita kesempatan untuk melakukan refleksi-refleksi yang berguna demi pemahaman dan penafsiran yang benar atas gelar ini. Istilah Theotokos, yang secara harafiah berarti, “ia yang telah melahirkan Allah,” secara sepintas dapat mengejutkan; sesungguhnya malahan membangkitkan pertanyaan seperti, bagaimana mungkin seorang manusia ciptaan melahirkan Allah. Jawaban atas iman Gereja sangat jelas: Keibuan ilahi Bunda Maria mengacu hanya pada kelahiran Putra Allah sebagai manusia, tetapi bukan pada kelahiran ilahi-Nya. Putra Allah dilahirkan dalam kekekalan oleh Allah Bapa, dan sehakikat dengan-Nya. Bunda Maria, tentu saja tidak ambil bagian dalam kelahiran dalam kekekalan ini. Tetapi, Putra Allah mengambil kodrat manusiawi kita 2000 tahun yang lalu dan dikandung serta dilahirkan oleh Perawan Maria.
Dengan memaklumkan Bunda Maria sebagai “Bunda Allah”, Gereja bermaksud untuk menegaskan bahwa ia adalah “Bunda dari Inkarnasi Sabda, yang adalah Allah.” Sebab itu, keibuannya tidak diperluas pada keseluruhan pribadi Tritunggal Mahakudus, melainkan hanya pada Pribadi Kedua, Allah Putra, yang dalam berinkarnasi mengambil kodrat manusiawi-Nya dari Maria.
Keibuan merupakan suatu hubungan dari pribadi ke pribadi: seorang ibu bukanlah sekedar ibu ragawi atau ibu secara fisik belaka dari makhluk yang dilahirkan dari rahimnya, melainkan ibu dari pribadi yang dilahirkannya. Karenanya, dengan melahirkan, menurut kodrat manusiawi-Nya, pribadi Yesus, yang adalah pribadi Allah, Bunda Maria adalah Bunda Allah.
Kesediaan Santa Perawan mengawali Peristiwa Inkarnasi
4. Dalam memaklumkan Bunda Maria sebagai “Bunda Allah”, Gereja dalam satu ungkapan menyatakan imannya akan Putra dan Bunda. Kesatuan ini telah dilihat dalam Konsili Efesus; dalam mendefinisikan keibuan ilahi Bunda Maria, para Bapa Gereja bermaksud menegaskan keyakinan mereka akan keilahian Kristus. Walau menghadapi banyak keberatan, baik dulu maupun sekarang, mengenai tepat atau tidaknya dalam menggelari Bunda Maria dengan gelar ini, umat Kristiani sepanjang jaman, dengan menafsirkan secara tepat makna keibuan ini, telah mengungkapan secara istimewa iman mereka akan keilahian Kristus dan akan kasih mereka kepada Santa Perawan.
Di satu pihak, Gereja memaklumkan Theotokos sebagai jaminan atas realita Inkarnasi sebab – seperti dinyatakan St Agustinus – “jika Bunda fiktif, maka daging akan juga fiktif … dan merupakan corengan terhadap Kebangkitan” (in evangelium Johannis tractatus, 8, 6-7). Di lain pihak, Gereja juga mengkontemplasikan dengan penuh kekaguman dan merayakannya dengan penghormatan anugerah agung luhur yang dianugerahkan kepada Bunda Maria oleh Ia yang menghendaki untuk menjadi Putranya. Ungkapan “Bunda Allah” juga menunjuk pada Sabda Allah, yang dalam Inkarnasi merendahkan diri dalam rupa manusia guna meninggikan manusia sebagai anak-anak Allah. Tetapi dalam terang martabat luhur yang dianugerahkan kepada Perawan dari Nazaret, gelar ini juga memaklumkan kemuliaan wanita dan panggilannya yang luhur. Sesungguhnya, Tuhan memperlakukan Bunda Maria sebagai pribadi yang bebas dan bertanggung jawab dan tidak mewujud-nyatakan Inkarnasi PutraNya hingga setelah Ia memperoleh kesediaannya.
Mengikuti teladan umat Kristiani perdana dari Mesir, kiranya umat beriman mempercayakan diri kepada dia yang, sebagai Bunda Allah, dapat memperolehkan dari Putra Ilahinya rahmat pembebasan dari yang jahat dan keselamatan kekal.
“…lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.”
Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya sukar sekali bagi seorang kaya untuk masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sekali lagi Aku berkata kepadamu, lebih mudah seekor unta masuk melalui lobang jarum dari pada seorang kaya masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Ketika murid-murid mendengar itu, sangat gemparlah mereka dan berkata: “Jika demikian, siapakah yang dapat diselamatkan?” Yesus memandang mereka dan berkata: “Bagi manusia hal ini tidak mungkin, tetapi bagi Allah segala sesuatu mungkin.” Lalu Petrus menjawab dan berkata kepada Yesus: “Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal. Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.”
(Matius 19:23-30)
Then Jesus said to his disciples, “Amen, I say to you, it will be hard for one who is rich to enter the kingdom of heaven. Again I say to you, it is easier for a camel to pass through the eye of a needle than for one who is rich to enter the kingdom of God.” When the disciples heard this, they were greatly astonished and said, “Who then can be saved?” Jesus looked at them and said, “For human beings this is impossible, but for God all things are possible.” Then Peter said to him in reply, “We have given up everything and followed you. What will there be for us?” Jesus said to them, “Amen, I say to you that you who have followed me, in the new age, when the Son of Man is seated on his throne of glory, will yourselves sit on twelve thrones, judging the twelve tribes of Israel. And everyone who has given up houses or brothers or sisters or father or mother or children or lands for the sake of my name will receive a hundred times more, and will inherit eternal life. But many who are first will be last, and the last will be first.
(Matthew 19:23-30)
Huaaaaaaa……..Dah lama aku menelantarkan blog ini. Banyak hal yg ud terjadi sampe sempet mikir blog ini ga mau dilanjutin, tp karena begitu besar kasih Allah kepada umat-Nya sehingga Dia mendorong saya untuk tetep continue blog ini dgn daily bread. ^^
Okay…..Injil hari ini kalo diliad dan dimengerti secara harafiah merupakan “pukulan” yang keras, khususnya masyarakat golongan atas. Yesus sendiri menyatakan org kaya susa msk surga. Bner begitu? Actually it’s true. Apa bedanya org kaya dan miskin bagi Tuhan sampe Dia sendiri menyatakan statement diatas? Biasanya org kaya tu menilai segala sesuatu dgn uang. Sehingga ada kecenderungan terikat dgn materi. Hal ini yang Yesus bilang membuat org kaya sulit masuk kerajaan surga. Dan hal yang kedua adalah mengenai pertanyaan Petrus : ”Kami ini telah meninggalkan segala sesuatu dan mengikut Engkau; jadi apakah yang akan kami peroleh?” Pertanyaan ini tentunya seringkali melintas dalam pikiran kita. Bner? Jujur aku juga sempet mikir hal ini. Dan Yesus memberi jawaban yang luar biasa :”Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada waktu penciptaan kembali, apabila Anak Manusia bersemayam di takhta kemuliaan-Nya, kamu, yang telah mengikut Aku, akan duduk juga di atas dua belas takhta untuk menghakimi kedua belas suku Israel. Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibunya, anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal….” Janji-Nya yang luar biasa bagi org yg mau terus mengikuti Dia. Amin? ^^
Dan 1 hal terakhir adalah statement Yesus : ”…Tetapi banyak orang yang terdahulu akan menjadi yang terakhir, dan yang terakhir akan menjadi yang terdahulu.” Maxudnya apa sie? Kata2 ini sebenernya merupakan sebuah warning dlm hal kesetiaan. org yg lebih dulu mengenal Yesus belajarlah untuk setia karena Yesus sendiri menyatakan yg terdahulu akan menjadi yg terakhir. Hal ini jelas menggambarkan “badai” yg begitu besar sampe org yg ikut Yesus dulu bs jd yg terakhir.
Marilah kita renungkan bersama injil hari ini. ^^
“…Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
“Apabila saudaramu berbuat dosa, tegorlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan nasihatmu engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya apa yang kamu ikat di dunia ini akan terikat di sorga dan apa yang kamu lepaskan di dunia ini akan terlepas di sorga. Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka.”
(Matius 18:15-20)
“If your brother sins (against you), go and tell him his fault between you and him alone. If he listens to you, you have won over your brother. If he does not listen, take one or two others along with you, so that ‘every fact may be established on the testimony of two or three witnesses.’ If he refuses to listen to them, tell the church. If he refuses to listen even to the church, then treat him as you would a Gentile or a tax collector. Amen, I say to you, whatever you bind on earth shall be bound in heaven, and whatever you loose on earth shall be loosed in heaven. Again, (amen,) I say to you, if two of you agree on earth about anything for which they are to pray, it shall be granted to them by my heavenly Father. For where two or three are gathered together in my name, there am I in the midst of them.”
(Matthew 18:15-20)
Injil hari ni mengajarkan kita bagaimana semestinya kita menegur sesama kita dalam komunitas. Hal ini perlu di notice krn seringkali kita menegur tdk pada tempatnya, sehingga org itu menjadi kepahitan.
Yg kedua mengenai doa syafaat. Doa permohonan dr beberapa org yg sepakat meminta sesuatu. Ini biasa dilakukan dlm suatu komunitas rohani.
-
Archives
- June 2009 (4)
- May 2009 (25)
- November 2008 (3)
- October 2008 (9)
- September 2008 (4)
- August 2008 (24)
- July 2008 (48)
- June 2008 (4)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS

