Yanuar’s Blog

All about our greatest king and His greatness ^^

Iman dari mulut dan hati

Faith&Reason-2

Kali ini aku mau sedikit berbicara tentang iman. Menurut kalian iman itu apa sih? Kalo berdasarkan alkitab : “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.” (Ibrani 11:1). Dari surat Ibrani telah kita ketahui arti iman itu. To put it simple, iman adalah sesuatu yang kita harapkan, namun belum kita lihat. Kalau seorang Kristiani tentunya kata iman ini sangat sering dikumandangkan oleh para pastor, pendeta, maupun pewarta. Namun dalam pelaksanaannya, iman bukanlah semudah itu. Bahkan Yesus sendiri berkata : “…Sebab Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya sekiranya kamu mempunyai iman sebesar biji sesawi saja kamu dapat berkata kepada gunung ini: Pindah dari tempat ini ke sana, –maka gunung ini akan pindah, dan takkan ada yang mustahil bagimu.” (Mat 17:20). Amazing isn’t it? Yesus berani ngmg gt karena Dia tau untuk seseorang beriman, bahkan sebesar biji sesawi tu sulit bgt. Dan apabila kita berhasil, yang dituai pun luar biasa.

Ada sebuah cerita di salah satu negara (lupa ;p). Ada 1 sekolah Taman Kanak-kanak. Pada suatu hari, taman yang ada di deket sekolah itu akan dibangun apartemen. Waktu itu anak2 di Tk itu pada sedih gt d. Nah, guru TK nya bilang : “Yuk kita berdoa bersama. Kata Yesus kalau kita punya iman, gunung aja bisa pindah.” Tentu saja guru itu hanya bermaksud menghibur anak2 itu. tetapi karena anak2 masih polos bgt, mereka berdoa bersama-sama dengan sungguh2. Hasilnya? Apartemen itu ga jadi dibangun. Bos yang mau bangun apartemen itu bilang kalau tempatnya kurang bagus n dia cri tmpt laen. Mungkin ada sebagian orang yang baca bilang itu hanya sebuah kebetulan belaka, tp bagi kita yang percaya dalam Kristus Yesus tidak ada yang kebetulan. semua berada dalam rancangan-Nya yang ajaib. See? dengan iman yang teguh anak2 itu “memindahkan” apartemen. That’s the power of faith in Jesus.

Seringkali aku mendengar orang2 ngobrol n bcanda2 memakai kata “iman” dan juga sering dalam sebuah komunitas dibahas mengenai iman itu sendiri. tetapi sering juga aku mendapati orang yang berkata dan mengajak orang lain untuk beriman tidak memiliki iman tersebut. Mereka hanya berbicara asal2an ataupun hanya teori saja. Di depan orang mengatakan ” Kita harus memilkiki iman yang teguh”. Selang beberapa menit kemudian mulai berpikir mengenai cicilan rumah yang tidak kunjung lunas dan kawatir. itu bukan iman namanya. Mari kita belajar untuk beriman bukan hanya dalam ucpana dan teori, tapi dalam pikiran, hati dan tindakan.

May 22, 2009 Posted by Yanuar Handoso | Teachings | | No Comments Yet

Novena Pentakosta

Singkatnya, novena adalah doa pribadi atau doa bersama selama sembilan hari berturut-turut yang dipanjatkan guna mendapatkan suatu rahmat khusus, memohon suatu karunia khusus atau menyampaikan suatu permohonan khusus. Novena berasal dari kata Latin “novem” yang artinya “sembilan”. Seperti tampak dalam definisi di atas, novena selalu menyiratkan adanya kepentingan yang mendesak.

Dalam liturgi Gereja, novena dibedakan dari oktaf, yang sifatnya lebih pada perayaan, entah sebelum atau sesudah suatu pesta penting. Misalnya, dalam penanggalan liturgi Gereja, kita merayakan Oktaf sebelum Natal, di mana pendarasan antifon “O” membantu kita mempersiapan diri menyambut kelahiran Juruselamat kita. Kita juga merayakan Oktaf Natal dan Paskah, yang meliputi hari pesta itu sendiri dan tujuh hari sesudahnya, guna menekankan sukacita misteri-misteri yang dirayakan.

Sulit ditentukan dengan tepat, asal mula novena sebagai bagian dari harta rohani Gereja. Perjanjian Lama tidak mencatat adanya perayaan selama sembilan hari di kalangan bangsa Yahudi. Sebaliknya, dalam Perjanjian Baru, pada peristiwa Kenaikan Tuhan Yesus, Tuhan memberikan Perutusan Agung kepada para rasul, dan kemudian menyuruh mereka untuk kembali ke Yerusalem dan menunggu datangnya Roh Kudus. Dalam Kisah Para Rasul dicatat, “Maka kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut Bukit Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem. Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama-sama” (Kis 1:12, 14). Sembilan hari sesudahnya, Roh Kudus turun atas para rasul pada hari Pentakosta. Kemungkinan, “periode doa sembilan hari” yang dilakukan oleh para rasul inilah yang menjadi dasar dari doa novena.

Jauh sebelum kekristenan, bangsa Romawi kuno juga mempraktekkan doa selama sembilan hari demi berbagai macam kepentingan. Penulis Livy mencatat bagaimana doa sembilan hari itu dirayakan di Gunung Alban guna menolak bala atau murka para dewa seperti yang diramalkan oleh para tukang tenung. Begitu pula, doa sembilan hari dipersembahkan apabila suatu “hal baik” diramalkan akan terjadi. Keluarga-keluarga juga menyelenggarakan masa duka selama sembilan hari atas kematian orang yang dikasihi dengan suatu perayaan khusus sesudah pemakaman yang dilakukan pada hari kesembilan. Pula, bangsa Romawi merayakan parentalia novendialia, suatu novena tahunan (13-22 Februari) guna mengenangkan segenap anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Karena novena telah merupakan bagian dari budaya Romawi, ada kemungkinan umat Kristiani “membaptis” praktek kafir ini.

Apapun yang mungkin merupakan asal mula novena, di kalangan umat Kristiani perdana memang sungguh ada masa berkabung selama sembilan hari atas meninggalnya seseorang yang dikasihi. Maka, pada akhirnya, dipersembahkanlah suatu Misa novena bagi kedamaian kekal jiwa. Hingga sekarang, terdapat praktek novendialia atau Novena Paus, yang dilaksanakan apabila Bapa Suci berpulang, seperti yang kita saksikan saat wafatnya Paus Yohanes Paulus II yang terkasih.

Pada Abad Pertengahan, terutama di Spanyol dan Perancis, doa novena biasa dipanjatkan sembilan hari menjelang Natal, melambangkan sembilan bulan yang dilewatkan Tuhan kita dalam rahim Santa Perawan Maria. Doa novena khusus ini membantu umat beriman mempersiapkan diri merayakan dengan khidmad kelahiran Tuhan kita. Lama-kelamaan berbagai macam novena disusun guna membantu umat beriman mempersiapkan diri menyambut suatu pesta istimewa atau guna memohon pertolongan seorang kudus dalam suatu masalah tertentu. Beberapa novena populer yang secara luas biasa didaraskan di Gereja kita adalah Novena Medali Wasiat, Novena Hati Kudus Yesus, Novena Roh Kudus, Novena St Yosef, Novena St Yudas Tadeus, dan lain sebagainya.

Cukup sulit mengatakan mengapa kita tidak mendaraskan novena dalam ibadat bersama sesering sebelum Konsili Vatikan II. Saya pernah menanyakan hal ini kepada seorang imam senior, yang pada intinya mengatakan bahwa cukup banyak orang yang ikut ambil bagian dalam doa novena, tetapi melewatkan Misa Kudus. Padahal, sebagai umat Katolik, fokus terutama dalam spiritualitas dan sembah sujud bersama adalah Ekaristi dan Misa Kudus.

Juga, sebagian orang saya pikir telah menyelewengkan novena dengan takhayul. Di setiap paroki di mana saya pernah ditugaskan, selalu saja saya menemukan salinan Novena St Yudas Tadeus yang pada dasarnya menyatakan bahwa jika orang pergi ke Gereja selama sembilan hari berturut-turut dan meninggalkan salinan Novena St Yudas Tadeus, maka doanya akan dikabulkan – semacam surat berantai rohani; bagaikan mesin Katolik otomatis saja: seperti orang memasukkan uang ke dalam mesin penjual, lalu menekan tombol untuk mendapatkan cola yang diinginkannya; dalam hal ini orang mendaraskan doa-doa, pergi ke gereja, meninggalkan salinan doa, dan beranggapan bahwa dengan demikian doanya pastilah dikabulkan. Yang menyedihkan sekarang ini adalah orang bukan, setidak-tidaknya menyalin dengan tangan, melainkan sekedar memfotokopinya, dan yang terlebih parah, biasanya sayalah yang harus membereskan lembaran-lembaran doa ini yang ditinggalkan dan tercecer di seluruh ruang Gereja.

Walau demikian, novena masih mendapat tempat yang sah dan benar dalam spiritualitas Katolik. Dalam buku Pedoman Indulgensi tertulis, “Indulgensi sebagian diberikan kepada umat beriman yang dengan tekun ikut ambil bagian dalam praktek saleh novena bersama yang diadakan sebelum perayaan Natal, atau Pentakosta, atau Hari Raya Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Dosa.” Di sini, sekali lagi Gereja menekankan bahwa novena merupakan suatu praktek rohani yang saleh, yang memperteguh iman individu dan hendaknyalah individu sungguh tekun, dengan selalu mengingat kebajikan Tuhan yang senantiasa menjawab semua doa-doa kita menurut kehendak ilahi-Nya.

Ayo teman2 kita novena. Jangan bolong ya. GBU

May 22, 2009 Posted by Yanuar Handoso | Teachings | | No Comments Yet

Dukacita menjadi sukacita

Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya kamu akan menangis dan meratap, tetapi dunia akan bergembira; kamu akan berdukacita, tetapi dukacitamu akan berubah menjadi sukacita. Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia melahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya, karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia. Demikian juga kamu sekarang diliputi dukacita, tetapi Aku akan melihat kamu lagi dan hatimu akan bergembira dan tidak ada seorangpun yang dapat merampas kegembiraanmu itu dari padamu. Dan pada hari itu kamu tidak akan menanyakan apa-apa kepada-Ku.

(Yoh 16:20-23a)

Verily, verily, I say unto you, That ye shall weep and lament, but the world shall rejoice: and ye shall be sorrowful, but your sorrow shall be turned into joy. A woman when she is in travail hath sorrow, because her hour is come: but as soon as she is delivered of the child, she remembereth no more the anguish, for joy that a man is born into the world. And ye now therefore have sorrow: but I will see you again, and your heart shall rejoice, and your joy no man taketh from you. And in that day ye shall ask me nothing. Verily, verily, I say unto you

(John 16:20-23a)

Firman hari ini mengajak kita untuk merefleksikan apa yang terjadi dalam hidupku. Pastinya sering banget kita merasakan dukacita melalui permasalahan yang kita alami. Permasalahan dengan keluarga, teman, pacar, komunitas, tempat kerja, dsb. Tapi Yesus mau bilang kalau semua itu emank akan terjadi. Dan Dia menjanjikan sukacita abadai apabila kita terus bertekun dan setia dalam tempat kita diutus, yaitu di keluarga, tempat kerja, kampus, dsb itu. Maukah kita setia dalam tugas perutusan kita?

May 22, 2009 Posted by Yanuar Handoso | Daily Bread | | No Comments Yet