Yanuar’s Blog

All about our greatest king and His greatness ^^

St. Carolus Lwangga

Kebenaran dan keluhuran ajaran Yesus dibela mati-matian oleh para pengikutNya di mana-mana meski hal itu mengakibatkan kematian. Di Afrika, terutama di Uganda, pembelaan iman ini sudah mengakibatkan pembunuhan banyak martir. Penganiayaan dan pembunuhan itu disebabkan karena ajaran Kristen dianggap sebagai pelaksanaan adat-istiadat kafir. Saat itu di Uganda masih tergolong sangat primitif. Perdagangan budak, poligami, dan pemerkosaan anak-anak dianggap hal yang biasa. Dan animisme masih dianggap sebagai budaya yang patut dilestarikan.

Oleh karena itu kedatangan para misionaris Katolik tahun 1879 untuk mewartakan Injil Al-Masih dianggap sebagai penghalang adat-istiadat dan kebiasaan mereka. Akibatnya, para misionaris dibunuh, para pemuda yang menjadi Kristen juga dibunuh. Carolus Lwanga saat itu sebagai pelayan Raja Muanga. Muanga berkelakuan sangat buruk, dan ia sangat membenci ajaran-ajaran Kristen. Ditambah lagi orang-orang Arab menghasutnya. Tanggal 25 Maret 1886, Muanga melihat para pelayannya mengikuti pelajaran agama dari seorang misionaris. Spontan ia marah lalu membunuh anak-anak itu. Anak-anak Kristen yang belum dibunuh, termasuk Carolus ditangkap dan dipenjarakan. Carolus yang tertua segera membaptis dan mengajar mereka tentang iman Kristen. Ia menguatkan hati mereka untuk menerima risiko yang paling buruk. Iman mereka makin teguh dan siap menjalani hukuman bakar.

Carolus dibunuh bersama teman-temannya demi membela iman Kristen. Mereka yakin bahwa Tuhan akan memberi mereka pahala di surga yang jauh lebih membahagiakan. Oleh Sri Paus Paulus VI, Carolus dinyatakan sebagai ‘kudus’ pada tahun 1964.

June 2, 2009 Posted by Yanuar Handoso | Saints | | 1 Comment

Kebangkitan

Datanglah kepada Yesus beberapa orang Saduki, yang berpendapat, bahwa tidak ada kebangkitan. Mereka bertanya kepada-Nya: “Guru, Musa menuliskan perintah ini untuk kita: Jika seorang, yang mempunyai saudara laki-laki, mati dengan meninggalkan seorang isteri tetapi tidak meninggalkan anak, saudaranya harus kawin dengan isterinya itu dan membangkitkan keturunan bagi saudaranya itu. Adalah tujuh orang bersaudara. Yang pertama kawin dengan seorang perempuan dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Lalu yang kedua juga mengawini dia dan mati dengan tidak meninggalkan keturunan. Demikian juga dengan yang ketiga. Dan begitulah seterusnya, ketujuhnya tidak meninggalkan keturunan. Dan akhirnya, sesudah mereka semua, perempuan itupun mati. Pada hari kebangkitan, bilamana mereka bangkit, siapakah yang menjadi suami perempuan itu? Sebab ketujuhnya telah beristerikan dia.” Jawab Yesus kepada mereka: “Kamu sesat, justru karena kamu tidak mengerti Kitab Suci maupun kuasa Allah. Sebab apabila orang bangkit dari antara orang mati, orang tidak kawin dan tidak dikawinkan melainkan hidup seperti malaikat di sorga. Dan juga tentang bangkitnya orang-orang mati, tidakkah kamu baca dalam kitab Musa, dalam ceritera tentang semak duri, bagaimana bunyi firman Allah kepadanya: Akulah Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub? Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup. Kamu benar-benar sesat!”

(Markus 12:18-27)

Then come unto him the Sadducees, which say there is no resurrection; and they asked him, saying, Master, Moses wrote unto us, If a man’s brother die, and leave his wife behind him, and leave no children, that his brother should take his wife, and raise up seed unto his brother. Now there were seven brethren: and the first took a wife, and dying left no seed. And the second took her, and died, neither left he any seed: and the third likewise. And the seven had her, and left no seed: last of all the woman died also. In the resurrection therefore, when they shall rise, whose wife shall she be of them? for the seven had her to wife. And Jesus answering said unto them, Do ye not therefore err, because ye know not the scriptures, neither the power of God? For when they shall rise from the dead, they neither marry, nor are given in marriage; but are as the angels which are in heaven. And as touching the dead, that they rise: have ye not read in the book of Moses, how in the bush God spake unto him, saying, I am the God of Abraham, and the God of Isaac, and the God of Jacob? He is not the God of the dead, but the God of the living: ye therefore do greatly err.

(Mark 12:18-27)
Firman Tuhan hari ini mengajak kita untuk merefleksikan mengenai kebangkitan dari kematian. Saat kebangkitan, hal-hal duniawi seperti perkawinan dan dan lain-lain tidak lagi diperhitungkan di dalamnya. kebangkitan dari kematian sendiri berarti meninggalkan (mati) hal yang duniawi dan menuju ke hidup yang baru melalui Kristus Yesus. Dan itu harus melewati tahap yang namanya kematian daging yang tidak dapat kita ketahui kapan waktunya. Sudah siapkah kita meninggalkan duniawi kita apabila kita dihadapkan pada kematian?

June 2, 2009 Posted by Yanuar Handoso | Daily Bread | | No Comments Yet

St. Yustinus

3334543093_b58a8cd90e_m

Yustinus lahir dari sebuah keluarga kafir di Nablus, Samaria, Asia Kecil pada permulaan abad ke-2 kira-kira pada kurun waktu meninggalnya Santo Yohanes Rasul.

Yustinus mendapat pendidikan yang baik semenjak kecilnya. Kemudian ia tertarik pada pelajaran filsafat untuk memperoleh kepastian tentang makna hidup dan tentang Allah. Suatu ketika ia berjalan-jalan di tepi pantai sambil merenungkan berbagai soal. Ia bertemu dengan seorang orang tua. Kepada orang tua itu, Yustinus menanyakan berbagai soal yang sedang direnungkannya. Orang tua itu menerangkan kepadanya segala hal tentang para nabi Israel yang diutus Allah, tentang Yesus Kristus yang diramalkan para nabi serta tentang agama Kristen. Ia dinasihati agar berdoa kepada Allah memohon terang surgawi.

Di samping filsafat, ia juga belajar Kitab Suci. Ia kemudian dipermandikan dan menjadi pembela kekristenan yang tersohor. Sesuai kebiasaan di zaman iru, Yustinus pun mengajar di tempat-tempat umum, seperti alun-alun kota, dengan mengenakan pakaian seorang filsuf. Ia juga menulis tentang berbagai masalah, terutama yang menyangkut pembelaan ajaran iman yang benar. Di sekolahnya di Roma, banyak kali diadakan perdebatan umum guna membuka hati banyak orang bagi kebenaran iman kristen.

Yustinus bangga bahwa ia menjadi seorang kristen yang saleh, dan ia bertekad meluhurkan kekristenannya dengan hidupnya. Dalam bukunya, “Percakapan dengan Tryphon Yahudi”, Yustinus menulis: “Meski kami orang Kristen dibunuh dengan pedang, disalibkan, atau dibuang ke moncong-moncong binatang buas, ataupun disiksa dengan belenggu dan api, kami tidak akan murtad dari iman kami. Sebaliknya, semakin hebat penyiksaan, semakin banyak orang demi nama Yesus, bertobat dan menjadi orang saleh”.

Di Roma, Yustinus ditangkap dan bersama para martir lainnya dihadapkan ke depan penguasa Roma. Setelah banyak disesah, kepala mereka dipenggal. Peristiwa itu terjadi pada tahun 165. Yustinus dikenal sebagai seorang pembela iman terbesar pada zaman Gereja Purba.

June 1, 2009 Posted by Yanuar Handoso | Saints | | No Comments Yet

Don’t Judge the Book by Its Cover

Lalu Yesus mulai berbicara kepada mereka dalam perumpamaan: “Adalah seorang membuka kebun anggur dan menanam pagar sekelilingnya. Ia menggali lobang tempat memeras anggur dan mendirikan menara jaga. Kemudian ia menyewakan kebun itu kepada penggarap-penggarap lalu berangkat ke negeri lain. Dan ketika sudah tiba musimnya, ia menyuruh seorang hamba kepada penggarap-penggarap itu untuk menerima sebagian dari hasil kebun itu dari mereka. Tetapi mereka menangkap hamba itu dan memukulnya, lalu menyuruhnya pergi dengan tangan hampa. Kemudian ia menyuruh pula seorang hamba lain kepada mereka. Orang ini mereka pukul sampai luka kepalanya dan sangat mereka permalukan. Lalu ia menyuruh seorang hamba lain lagi, dan orang ini mereka bunuh. Dan banyak lagi yang lain, ada yang mereka pukul dan ada yang mereka bunuh. Sekarang tinggal hanya satu orang anaknya yang kekasih. Akhirnya ia menyuruh dia kepada mereka, katanya: Anakku akan mereka segani. Tetapi penggarap-penggarap itu berkata seorang kepada yang lain: Ia adalah ahli waris, mari kita bunuh dia, maka warisan ini menjadi milik kita. Mereka menangkapnya dan membunuhnya, lalu melemparkannya ke luar kebun anggur itu. Sekarang apa yang akan dilakukan oleh tuan kebun anggur itu? Ia akan datang dan membinasakan penggarap-penggarap itu, lalu mempercayakan kebun anggur itu kepada orang-orang lain. Tidak pernahkah kamu membaca nas ini: Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru: hal itu terjadi dari pihak Tuhan, suatu perbuatan ajaib di mata kita.” Lalu mereka berusaha untuk menangkap Yesus, karena mereka tahu, bahwa merekalah yang dimaksudkan-Nya dengan perumpamaan itu. Tetapi mereka takut kepada orang banyak, jadi mereka pergi dan membiarkan Dia.

(Markus 12:1-12)

And he began to speak unto them by parables. A certain man planted a vineyard, and set an hedge about it, and digged a place for the winefat, and built a tower, and let it out to husbandmen, and went into a far country. And at the season he sent to the husbandmen a servant, that he might receive from the husbandmen of the fruit of the vineyard. And they caught him, and beat him, and sent him away empty. And again he sent unto them another servant; and at him they cast stones, and wounded him in the head, and sent him away shamefully handled. And again he sent another; and him they killed, and many others; beating some, and killing some. Having yet therefore one son, his wellbeloved, he sent him also last unto them, saying, They will reverence my son. But those husbandmen said among themselves, This is the heir; come, let us kill him, and the inheritance shall be our’s. And they took him, and killed him, and cast him out of the vineyard. What shall therefore the lord of the vineyard do? he will come and destroy the husbandmen, and will give the vineyard unto others. And have ye not read this scripture; The stone which the builders rejected is become the head of the corner:This was the Lord’s doing, and it is marvellous in our eyes? And they sought to lay hold on him, but feared the people: for they knew that he had spoken the parable against them: and they left him, and went their way.And they send unto him certain of the Pharisees and of the Herodians, to catch him in his words.

(Mark 12:1-12)

Firman hari ini mengajak kita untuk melihat bagaimana karya Bapa dalam kehidupan Yahudi. Seperti yang kita tahu, bangsa Israel adalah bangsa yang dipilih Allah sendiri sebagai umat kepunyaan-Nya. Yesus menggambarkannya sebagai penggarap-penggarap yang disewa sang pemilik kebun anggur. Para hamba yang dimaksudkan adalah para nabi dan Putera yang dimaksud adalah Yesus. Bagaimana mereka merasa memiliki kebun anggur itu sampai setiap orang yang dikirim, disiksa dan dibunuh. Yesus, Anak Allah pun tidak dipercaya. Mereka “menggambarkan” Mesias dengan gambaran mereka sendiri, yaitu anak bangsawan dengan kekuasaan yang tinggi. Sehingga ketika Yesus datang ke dunia dan menjadi anak tukang kayu, mereka tidak mau mengakui Dia sebagai Mesias. Seringkali kita pun berperilaku demikian. Meniali orang hanya dari penampilan luarnya saja. Maukah kita belajar untuk menghargai setiap orang bukan hanya dari penampilan luarnya saja?

June 1, 2009 Posted by Yanuar Handoso | Daily Bread | | No Comments Yet